Secuil Satire dunia pendidikan di tengah pandemi

Penulis secara jujur tidak mengerti makna sebenarnya dari arti kata “merdeka” karena persepsi setiap orang mengenai kata merdeka itu berbeda.

Mungkin ada dari mereka yang menganggap merdeka itu adalah terbebas dari penjajahan. Mungkin juga dari mereka ada yang beranggapan lain.

Konteks merdeka yang akan penulis angkat dari artikel ini adalah kondisi dari sudut pandang penulis sebagai guru di salah satu sekolah swasta yang dimana hamper 100 persen siswanya adalah berasal dari kalangan menengah ke bawah. Jika memang ada sudut pandang lain mengenai konteks merdeka yang lain, penulis akan sangat menghargainya.

Perjalanan artikel ini dimulai ketika awal masa pandemi yang mengharuskan siswa belajar dari rumah. Dan jelas jika ditelisik lebih dalam maka akan ada 3 hal pokok yang wajib dimiliki siswa ketika belajar dari rumah. Pertama, gadget yang memadai kedua, kekuatan jaringan yang memadai dan yang terakhir adalah kondisi finansial yang memadai. Kenapa kondisi finansial penulis letakkan di bagian akhir? Penulis mencoba mencontoh apa yang dikatakan oleh Nabi Muhamad SAW ketika ditanyai oleh sahabat beliau perihal jodoh. Dan sesuatu yang paling penting yaitu agama diletakkan oleh Nabi di bagian akhir yang menandakan bahwa hal yang paling penting adalah agama. Jika ditarik benang merahnya maka penulis tentu menyiratkan bahwa kondisi finansial yang memadai adalah sesuatu yang sangat penting.

Kondisi finansial yang penulis maksud disini adalah kondisi finansial dari keluarga masing-masing siswa. Penulis tidak akan membawa unsur siswa yang berasal dari sekolah negeri maupun sekolah swasta. Karena bagi penulis pribadi, (mungkin juga bagi pandangan sebagian orang) siswa yang berasal dari sekolah negeri kebanyakan adalah orang yang berpunya.

Seiring berkembangnya waktu penulis memahami bahwa kondisi finansial tidak melihat siswa itu berasal dari sekolah negeri maupun sekolah swasta. Sedikit saya bercerita tetangga penulis adalah siswa yang berasal dari salah satu sekolah negeri. Namun orang tuanya harus berhutang kesana kemari karena beliau memiliki 3 anak dan ke semuanya masih sekolah dan sekolah negeri semua. Penulis beberapa waktu lalu juga menemukan pengamen di lampu merah yang memakai seragam sekolah yang tidak asing bagi penulis dan seragam itu adalah putih abu-abu dari salah satu sekolah negeri di daerah penulis. Ditambah logo yang menambah keyakinan penulis.

Penulis berusaha mendekati dia dan dia langsung kabur sambil membawa gitar kecil dan tas sekolah. Dan jelas sepatu yang dia pakai. Penulis yakin dia adalah siswa dari salah satu sekolah negeri di daerah penulis. Terlihat dari wajahnya yang tidak begitu kusam. Meskipun penulis berusaha untuk khusnudzon bahwa seragam itu diberi oleh temannya yang sekolah di sekolah negeri namun hati kecil penulis tidak bisa menafikkan diri apalagi seragamnya masih sangat bagus.

Penulis adalah guru di salah satu sekolah swasta. Dimana sekolah itu hamper 100 persen memiliki siswa dengan kondisi ekonomi dibawah rata-rata. Penulis berusaha melihat dari sisi siswa dimana hampir semua siswa tidak pernah mengerjakan tugas. Mengerjakan tugas pun sering telat. Penulis tidak pernah suudzon bahwa mereka adalah siswa yang malas. Penulis berusaha menyelidiki dan ternyata menemukan kesimpulan bahwa beberapa siswa (atau mungkin hampir semua siswa ) harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Penulis memiliki masa remaja yang hampir sama seperti mereka tapi jelas mereka jauh lebih parah. Karena pekerjaan yang mereka lakukan adalah pekerjaan yang kasar. Mungkin bagi mereka lebih baik kehilangan masa muda daripada besok tidak makan.

Penulis tidak akan menjual kemiskinan disini. Karena bagi penulis sudah cukup televisi memiliki banyak acara yang mengundang air mata dan menjual kemiskinan. Namun, penulis hanya berharap banyak pihak membuka mata bahwa nun jauh disana ada yang bahkan tidak tersentuh internet sama sekali. Ada yang bahkan untuk makan besok pun belum tentu bisa. Apakah penulis menyalahkan pemerintah? Tidak sama sekali. Penulis hanya ingin mengajak semua kalangan agar membantu generasi (yang bukan rahasia umum lagi disebut generasi emas ) dapat menjadi generasi yang benar-benar hidup. Bukan malah terpuruk dengan mental saling bertengkar hanya karena SARA atau mungkin mental nikah muda yang belum tentu siap mental dan kondisi finansial yang ujung-ujungnya menyalahkan pemerintah (maaf penulis menyinggung angka perceraian pasangan muda yang semakin tinggi dan “Gerakan” nikah muda yang selalu menyalahkan keputusan yang dibuat pemerintah padahal mereka sendiri yang membuat pemerintah harus mengeluarkan keputusan itu)

Mereka harus menjadi generasi terbaik sesuai dengan minat dan bakat yang mereka miliki. Jujur, penulis salut kepada mereka karena mereka rela kehilangan masa muda agar dapat makan besok namun penulis juga menangis didalam hati karena mereka juga harus menjalankan hak-hak mereka dengan belajar. Dan bagi penulis belajar tidak hanya di sekolah. Mereka juga punya hak untuk belajar di rumah. Berdiskusi bersama teman-temannya. Bukan masuk ke dalam dunia luar yang seharusnya diisi oleh orang-orang dewasa.

Penulis meyakini mereka punya mental kuat. Sekuat baja. Tapi penulis juga berharap mereka memiliki kesempatan untuk mengembangkan minat dan bakat mereka yang terkurung akibat kondisi yang tidak memungkinkan.

Intinya, tidak ada yang salah dalam kondisi seperti ini. Mari kita semua berbenah diri agar masa depan Indonesia yang berada di tangan mereka menjadi masa depan yang cerah dan bisa kembali ke 7 abad lalu yakni Bumi Nusantara menjadi kiblat bagi dunia.

Visi penulis dalam menulis artikel ini adalah tidak melihat dia dari sekolah mana. Negeri atau swasta. Mereka punya hak di masa depan agar mereka mampu bersaing didunia internasional. Penulis meyakini banyak Mutiara indah diantara siswa penulis ataupun dari guru-guru swasta lain yang punya nasib sama seperti penulis. Yakni memiliki banyak siswa yang berasal dari kalangan menengah ke bawah.

Sebagai pesan terakhir, penulis akan mengutip kata-kata dari Bung Karno “berikan aku 1000 orang tua akan aku guncangkan semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda maka akan aku guncangkan dunia

 

Wassalam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *